Merana Saat Idul Adha

Idul Adha tahun ini bagi saya adalah lebaran haji yang paling baper. Walaupun Ibu dan adik saya datang ke Jakarta, bapernya nggak hilang-hilang juga. Padahal cuma karena daging kurban. Gubrak!

picsart_09-15-09.11.40.png

Sebagai orang rantau, saya sudah maklum dan sadar kalau kemungkinan besar saya nggak bakal dapat daging kurban. Wajar dong ya, kan kami memang nggak kurban di sini. Di kontrakan sebelumnya juga begitu, di jaman kuliah dulu pun sama. Biasanya, iuran Agustusan dan bulanan ditarikin, kerja bakti diajak, tapi kalau daging kurban kami selalu nggak dapat jatah. Kata Z, mungkin banyak keluarga yang lebih menjadi prioritas.

Sebenarnya saya nggak masalah sih, soalnya saya nggak terlalu doyan daging sapi dan kambing. Muahahaha. Kalau kepingin aja sekali-sekali, tinggal beli tongseng, sate, atau mlipir ke WS. Bedanya tahun ini, yang bikin saya baper, adalah Mbahde, ART kami. Dia tampak kecewa berat karena gagal masak daging.

Mbahde memang bukan orang mampu, jadi maklum lah saya, sampai ikut merasa ngenes begini. Harga daging yang mahal membuat mbahde benar-benar menantikan momen seperti ini. Pantas saja orang rela rebutan daging walau kondisi rebutannya nggak manusiawi begitu.

Salah saya juga sih nggak pernah beli daging, lha wong saya bukan penyuka daging. Kalau begitu, harus dianggarkan beli daging mentah sekali-sekali.

Ngemeng-ngemeng soal daging kurban, siapa ya yang berhak mendapatkannya? Saya jadi penasaran juga. Benarkah kata Z buat orang yang nggak mampu? Bisa dibaca selengkapnya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s